Jakarta – Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi, memberikan respons keras terhadap pernyataan Amien Rais yang mendesak Presiden Prabowo Subianto segera mencopot Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo serta meragukan kelayakan Menteri Sekretaris Kabinet Teddy Indrawijaya.
Habib Syakur menilai, desakan pencopotan Kapolri yang disampaikan secara terbuka dan bernada ultimatum justru berpotensi merusak prinsip tata kelola pemerintahan yang profesional. Menurutnya, pergantian pejabat strategis negara tidak boleh didorong oleh tekanan opini personal atau kepentingan politik sesaat, melainkan harus berbasis evaluasi kinerja, mekanisme hukum, dan pertimbangan institusional.
“Kapolri itu jabatan negara, bukan pion politik. Kalau ada masalah, ada mekanisme evaluasi, ada DPR, ada sistem pengawasan internal dan eksternal. Presiden tidak boleh dipaksa mengambil keputusan strategis hanya karena tekanan satu tokoh,” tegas Habib Syakur.
Ia menambahkan, framing seolah-olah Presiden akan dianggap “takut pada aparat” bila tidak segera mencopot Kapolri adalah narasi berbahaya. Menurut Habib Syakur, narasi semacam itu justru mendorong publik pada logika instan: seakan-akan keberanian politik hanya diukur dari seberapa cepat seorang Presiden memecat pejabat, bukan dari seberapa matang ia menjaga stabilitas institusi negara.
“Keberanian politik bukan soal pamer pecat-pecatan. Keberanian politik itu justru diuji ketika Presiden mampu menahan diri, memastikan keputusan diambil dengan kepala dingin, bukan karena teriakan di luar,” ujarnya.
Terkait serangan terhadap Menteri Sekretaris Kabinet Teddy Indrawijaya, Habib Syakur menilai kritik Amien Rais cenderung bersifat spekulatif dan personal. Menurutnya, menuduh seorang pejabat sebagai ‘ranjau politik’ tanpa dasar bukti yang jelas hanya akan menciptakan kecurigaan publik yang tidak produktif.
“Menyerang individu dengan prasangka mata rantai rezim lama tanpa data konkret itu bukan kritik substantif. Itu framing politis yang berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap kerja pemerintahan,” kata Habib Syakur.
Ia menegaskan, jabatan Menseskab adalah jabatan teknis strategis yang bekerja berdasarkan mandat Presiden. Selama tidak ada pelanggaran hukum atau etika, maka yang harus dinilai publik adalah kinerja, bukan latar belakang atau asumsi-asumsi politis yang belum terbukti.
Habib Syakur juga mengingatkan bahwa narasi “ranjau di sekitar Presiden” jika terus digulirkan justru dapat menciptakan instabilitas psikologis dalam pemerintahan, seolah-olah Presiden dikepung oleh ancaman dari dalam. Menurutnya, narasi seperti itu bisa melemahkan legitimasi kepemimpinan di mata publik, bukan memperkuat reformasi.
“Reformasi bukan dengan menebar curiga ke semua orang di sekitar Presiden. Reformasi itu membangun sistem yang kuat, bukan menggiring opini bahwa siapa pun yang dekat dengan Presiden pasti bermasalah,” tegasnya.
Lebih jauh, Habib Syakur mengajak publik untuk menilai konsistensi moral para tokoh yang hari ini paling keras menuntut keberanian politik. Ia mengingatkan bahwa Amien Rais sendiri memiliki sejumlah kontroversi yang hingga kini masih menjadi catatan publik.
“Publik tentu masih ingat nazar jalan kaki dari Jogja ke Jakarta yang tak kunjung dipenuhi. Kita juga ingat kritik dari aktivis 98 yang menyebut ada tokoh yang sekadar menumpang gelombang reformasi. Belum lagi keterlibatan dalam pusaran hoaks Ratna Sarumpaet yang sempat mencederai nalar publik. Jadi, wajar kalau publik hari ini lebih kritis menilai seruan-seruan moral politik,” ujar Habib Syakur.
Di akhir pernyataannya, Habib Syakur menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto harus diberi ruang bekerja secara konstitusional tanpa tekanan personal dari tokoh mana pun. Kritik boleh dan perlu, tetapi tidak boleh berubah menjadi tekanan politik yang berpotensi merusak stabilitas institusi penegak hukum dan tata kelola pemerintahan.
“Negeri ini butuh reformasi yang matang, bukan reformasi yang emosional. Copot-mencopot jabatan dan menyerang orang dekat Presiden tanpa dasar kuat itu bukan solusi, tapi potensi masalah baru,” pungkasnya.




