Krisis Pangan di Depan Mata? BIMA Peringatkan Ancaman Kemarau Panjang Akibat Pergeseran Iklim

oleh -69 Dilihat
Permana Irmansyah
Ketua Bidang Lingkungan dan Kebencanaan DPP Barisan Insan Muda (DPP BIMA), Permana Irmansyah.

JAKARTA — Sektor pertanian nasional dihadapkan pada ujian berat menyusul ancaman kemarau panjang akibat pergeseran pola iklim. Ketua Bidang Lingkungan dan Kebencanaan DPP Barisan Insan Muda (DPP BIMA), Permana Irmansyah, menegaskan bahwa minimnya curah hujan berisiko memicu penurunan produktivitas pertanian secara drastis sekaligus menggoyang stabilitas ketahanan pangan Indonesia.

Pemerintah sejatinya telah bergerak lewat berbagai program penanggulangan, seperti penyediaan irigasi darurat, distribusi benih tahan kekeringan, serta pendampingan petani. Kendati demikian, Permana menilai langkah tersebut masih memerlukan suntikan penguatan, khususnya pada sektor edukasi publik mengenai teknik bertani ramah lingkungan dan konservasi air.

Desak Percepatan Rencana Kontinjensi Daerah

Guna membendung dampak yang lebih luas, Permana mendesak agar pemerintah daerah segera merumuskan rencana kontinjensi secara matang. Langkah cepat ini dinilai krusial agar penanganan di lapangan tidak terlambat jika wilayah terdampak kekeringan semakin meluas.

“Kita harus menjaga ketahanan pangan melalui kolaborasi semua pihak, mulai pemerintah, petani, hingga komunitas lokal,” ungkap Permana, Selasa (4/8/2026).

Di sisi lain, BIMA menyatakan siap pas badan mengawal program mitigasi ekosistem. Salah satu fokus utama mereka adalah menggalakkan reboisasi dan memulihkan kawasan hulu demi mengamankan cadangan air tanah.

Tidak hanya fokus pada kekeringan, Permana turut mengingatkan pentingnya sinergi lintas sektor untuk mengantisipasi kemunculan titik api dan mencegah kebakaran hutan atau lahan sejak dini.

Mengubah Perilaku Demi Ketahanan Mandiri

Bagi BIMA, batu sandungan terbesar dalam menghadapi krisis iklim saat ini bukanlah semata-mata soal anggaran daerah yang terbatas, melainkan rendahnya kesadaran kolektif untuk merawat lingkungan.

Untuk mengatasi hal tersebut, BIMA aktif menggerakkan program edukasi konservasi air, penanaman pohon, hingga pembentukan jejaring relawan tanggap bencana guna memperkuat ketahanan warga secara mandiri.

Permana meyakini bahwa kombinasi antara kebijakan taktis dari pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat akan ampuh meredam gejolak sosial serta kerugian ekonomi selama musim kering berlangsung.

“Kita harus bergerak sekarang. Pencegahan selalu lebih murah dan lebih manusiawi dibandingkan menunggu bencana datang,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.