Berhenti Mengeluh, Mulai Bergerak! Warga Benhil Diajak Jadi Pelaku Perubahan

oleh -22 Dilihat

JAKARTA — Inovasi lingkungan tidak harus dimulai dari program besar atau anggaran miliaran rupiah. Perubahan justru bisa berawal dari gang kecil, pos ronda, hingga inisiatif sederhana yang melibatkan warga. Pesan inilah yang disampaikan Imam Basori, Ketua RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, saat hadir di RPTRA Benhil, kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026).

Dikenal sebagai penggerak dan inovator Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan), Imam mengajak masyarakat untuk berani memulai perubahan dari lingkungan tempat tinggal masing-masing. Dengan gaya komunikatif, penuh humor, dan membangkitkan semangat, ia menegaskan bahwa inovasi bukan hanya milik pejabat, akademisi, atau orang yang memiliki sumber daya besar.

“Saya ini bukan profesor, bukan doktor. Saya cuma Ketua RT! Tapi saya punya keyakinan, kalau seorang Ketua RT mau bergerak, satu lingkungan bisa berubah. Kalau satu lingkungan berubah, lingkungan lain bisa terinspirasi,” ujar Imam Basori dalam sambutannya.

Menurut Imam, tantangan utama dalam membangun lingkungan yang lebih baik bukan semata-mata keterbatasan fasilitas, melainkan kemauan untuk bergerak bersama. Ia mengingatkan warga agar tidak berhenti pada kritik dan keluhan, tetapi mulai mengambil peran nyata dalam menyelesaikan persoalan di sekitarnya.

“Jangan tunggu jadi pejabat untuk berbuat manfaat. Jangan tunggu punya anggaran miliaran untuk menciptakan perubahan. Dan jangan tunggu viral dulu baru mau bekerja,” tegasnya.

Empat Pilar Bang Jali: Keamanan, Lingkungan, Pendidikan, dan Ekonomi

Dalam kesempatan tersebut, Imam turut memperkenalkan inovasi Bang Jali yang dikembangkan di RT 11 RW 7 Gandaria Utara melalui empat pilar utama.

Pilar keamanan diwujudkan melalui e-Gate 11, sistem akses gerbang berbasis kartu RFID, serta dukungan teknologi dan partisipasi warga dalam menjaga lingkungan. Pilar lingkungan dikembangkan melalui Komling atau Kompos Keliling dan KOMA (Komposter Mandiri) untuk mendorong pengelolaan sampah organik.

Sementara itu, pada bidang pendidikan, RT 11 menghadirkan program Erte English untuk memperluas akses belajar bahasa Inggris bagi warga. Adapun pilar ekonomi diwujudkan melalui RT11Mart sebagai upaya mendorong aktivitas ekonomi dan pemberdayaan UMKM di lingkungan masyarakat.

Imam menegaskan, setiap inovasi tidak harus disalin secara utuh oleh wilayah lain. Hal terpenting adalah mempelajari gagasan yang sudah berjalan, menyesuaikannya dengan kebutuhan lokal, dan mengembangkan solusi yang sesuai dengan kondisi warga.

“Saya datang ke sini bukan untuk mengatakan RT 11 paling hebat. Saya ingin mengajak kita semua percaya bahwa setiap kampung punya kesempatan untuk hebat dengan caranya sendiri,” katanya.

Ia juga mengajak warga mengubah pola pikir, dari sekadar menjadi penonton menjadi pelaku perubahan, serta memperkuat semangat gotong royong dalam menjaga keamanan, kebersihan, pendidikan, dan perekonomian masyarakat.

“Kampung hebat bukan kampung yang tidak punya masalah. Kampung hebat adalah kampung yang warganya tidak menyerah menghadapi masalah,” tambahnya.

RT Inggris, Cara Baru Mengenalkan Isu Lingkungan ke Dunia Internasional

Selain memaparkan inovasi Bang Jali, kegiatan tersebut juga menghadirkan Mr One, pengajar program RT Inggris di Gandaria Utara. Ia menjelaskan bahwa program pembelajaran bahasa Inggris tersebut telah berjalan sekitar satu setengah bulan dan mulai menunjukkan perkembangan yang dinilai positif bagi warga.

Menurut Mr One, keunikan program RT Inggris terletak pada upayanya menggabungkan pembelajaran bahasa Inggris dengan isu-isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama pengelolaan sampah dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Kami tidak hanya mengajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi, tetapi juga mengenalkan isu pengelolaan sampah ke dalam kurikulum pembelajaran. Jadi, warga belajar bahasa sekaligus memahami persoalan lingkungan di sekitarnya,” jelas Mr One.

Ia menilai, pendekatan tersebut dapat membuat pembelajaran lebih relevan dan aplikatif. Warga tidak hanya mempelajari kosakata dan percakapan, tetapi juga berlatih menyampaikan gagasan mengenai pemilahan sampah, pengomposan, pengurangan sampah plastik, dan pentingnya menjaga lingkungan.

Penggunaan bahasa Inggris juga membuka peluang agar isu lingkungan yang dimulai dari tingkat RT dapat dikomunikasikan kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk komunitas internasional.

“Bahasa Inggris merupakan bahasa yang digunakan secara luas di dunia. Karena itu, penting bagi kita untuk bisa membicarakan persoalan lingkungan dengan bahasa Inggris. Harapannya, pengalaman dan praktik baik dari lingkungan kita bisa diperkenalkan kepada dunia internasional,” ungkapnya.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan berbasis komunitas dapat dikembangkan secara kreatif. Persoalan lingkungan tidak hanya menjadi materi sosialisasi, tetapi juga menjadi sarana belajar bahasa, membangun kepercayaan diri, dan meningkatkan kepedulian sosial.

Dari Gang Kecil untuk Perubahan yang Lebih Besar

Pertemuan di RPTRA Benhil menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai pentingnya kolaborasi masyarakat dalam membangun lingkungan yang aman, bersih, produktif, dan berdaya.

Imam Basori berharap, warga Tanah Abang dapat menggali potensi di wilayah masing-masing dan mengembangkan inovasi sesuai kebutuhan. Menurutnya, setiap lingkungan memiliki sumber daya yang bisa dioptimalkan apabila masyarakat bersedia bekerja sama.

“Perubahan Indonesia tidak harus selalu dimulai dari Istana atau gedung pemerintahan. Perubahan bisa dimulai dari gang kecil, dari pos ronda, dari halaman rumah, bahkan dari satu orang yang berani berkata, ‘Sudah, jangan cuma mengeluh! Ayo, kita kerjakan!’” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi sosial tidak selalu dimulai dari teknologi canggih atau program berskala besar. Inovasi juga dapat tumbuh dari kepedulian, keberanian mencoba, dan konsistensi warga dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari.

Melalui semangat Bang Jali dan pembelajaran RT Inggris, gerakan dari tingkat RT diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk mengembangkan solusi lokal yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Dari warga, oleh warga, untuk warga, perubahan besar dimulai ketika masyarakat berani bergerak bersama.