Habib Syakur Bongkar Motif Demo BEM UI, Hari Bhayangkara Disebut Jadi Sasaran

oleh -10 Dilihat

JAKARTA – Rencana aksi Aliansi BEM Universitas Indonesia yang akan menggelar demo “perkabungan” di Mabes Polri pada Hari Bhayangkara ke-80 menuai kecaman keras dari tokoh nasional. Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi, dengan lantang mengkritik langkah mahasiswa yang dinilainya bukan hanya tidak berdasar, tetapi juga menghina perjuangan 80 tahun institusi kepolisian yang telah mati-matian menjaga kedaulatan NKRI.

Reformasi Sudah Jalan, Ini Mah Cari Publisitas!

Di tengah euforia nasional menyambut HUT Bhayangkara, BEM UI justru berniat membawa simbol “duka” dan “perkabungan” ke Mabes Polri. Menanggapi hal itu, Habib Syakur menegaskan bahwa tudingan “gagalnya Reformasi Polri” adalah narasi usang yang terus dipaksakan oleh kelompok yang tidak paham dinamika keamanan nasional.

“Polri saat ini sudah jauh lebih profesional dibanding era Orba. Kita sudah punya Komnas HAM, Propam, dan pengadilan umum untuk mengadili oknum. Kalau masih ada celah, itu bukan sistem yang gagal, tapi oknum yang harus diproses. Masa’ iya gara-gara segelintir oknum, seluruh institusi harus dicabut UU-nya? Ini logika mahasiswa yang mengada-ada!” tegas Habib Syakur, hari ini.

Potret Ironi: Demo di Hari Pahlawan Bhayangkara

Habib Syakur menyoroti ketidakpekaan BEM UI terhadap momentum Hari Bhayangkara. Ia mengingatkan bahwa tanggal 1 Juli adalah hari sakral bagi ribuan polisi yang gugur dalam tugas, mulai dari pemberontakan PKI hingga operasi terorisme di Poso dan Papua.

“Bayangkan, di hari dimana keluarga besar Polri sedang berbahagia dan mengenang jasa pahlawannya, ada sekelompok mahasiswa datang membawa karangan bunga duka. Ini bukan aksi kritis, ini aksi penghinaan publik! Mereka ingin mencuri perhatian dengan cara yang sangat tidak beradab,” sesalnya.

Tuntutan Pencabutan UU Polri: Sebuah Kemustahilan

Salah satu tuntutan BEM UI yang paling disorot adalah “pencabutan UU Polri” dan “menjauhkan aparat dari ruang sipil”. Habib Syakur menilai tuntutan ini sangat berbahaya dan mengindikasikan bahwa BEM UI telah kehilangan arah.

“Dipimpin oleh siapa? Masa’ ada mahasiswa yang minta polisi dijauhkan dari ruang sipil. Kalau polisi dijauhkan, siapa yang akan mengamankan demo mereka sendiri? Siapa yang akan menangkap begal, preman, dan teroris? Ini adalah bukti bahwa gerakan ini tidak lahir dari akar rumput, melainkan dari ruang akademis yang dingin dan jauh dari realitas rakyat kecil. Rakyat di pasar justru butuh polisi untuk melindungi dagangannya,” ujar Habib dengan nada geram.

Pesan untuk Masyarakat: Jangan Terprovokasi!

Lebih lanjut, Inisiator GNK itu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak terpancing oleh aksi simpatisan BEM UI yang dinilainya hanya ingin menggugat kewibawaan Presiden dan Kapolri di mata publik.

“Ada yang haus akan panggung. Mari jaga etika kita. Saya himbau masyarakat Jakarta agar tidak ikut-ikutan. Jangan sampai kita justru dimanfaatkan untuk merusak momen kebersamaan nasional. Hari Bhayangkara adalah milik semua rakyat Indonesia, bukan panggung sandiwara,” ujarnya.

Sikap GNK: Dukung Polri Tindak Tegas Pelanggar

Menutup pernyataannya, Habib Syakur Ali Mahdi mendukung penuh aparat kepolisian untuk bertindak tegas sesuai aturan hukum jika aksi BEM UI nantinya berujung pada pelanggaran lalu lintas, provokasi, atau tindakan anarkis.

“Kami GNK siap menjadi garda terdepan menjaga ketertiban. Kalau memang ada unsur penghinaan terhadap simbol negara atau mengganggu stabilitas, jangan ragu untuk ditindak. Generasi muda harus dididik, bukan dibiarkan. Ini bukan tentang demo, ini tentang adab dan nasionalisme seorang anak bangsa terhadap institusi yang melindunginya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.