Qodari Dukung Pelaksanaan Pemilu Satu Putaran, Tegaskan Bansos Bukan Bentuk Kecurangan

oleh -39 Dilihat

Jakarta – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar diskusi publik (dispub) bertajuk “What’s Next After Pemilu?”. Bertempat di Auditorium Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa) UI, acara ini menghadirkan lima pembicara dengan latar belakang berbeda untuk membahas arah politik Indonesia pasca-Pemilu 2024. Kelima pembicara tersebut adalah Vladima Insan selaku Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Siti Mauliani selaku Presiden Mahasiswa BEM Keluarga Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KM UMY), Verrel Uziel selaku Ketua BEM UI, Reni Suwarso selaku Dosen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI, dan Muhammad Qodari sebagai pengamat politik.

Siti Maulani: Soroti Polarisasi dan Krisis Demokrasi Pemilu 2024

Dalam membuka diskusi publik, Siti menyoroti polarisasi dan mengkritisi demokrasi dalam Pemilu 2024. Sebagai mahasiswa, Siti melihat instrumen hukum digunakan untuk memuluskan jalan salah satu calon, seperti putusan MK yang bermasalah dan melanggar kode etik. Menurutnya, demokrasi saat ini tidak lagi substansial.

“Kenapa kita perlu mempertanyakan apakah pemilu kali ini demokratis atau enggak? Karena dilihat dari proses pelaksanaannya, di mana rakyat ini lagi peka-pekanya nih, sekarang sama politik dan Pemilu hari ini, tapi kepekaan rakyat ini aku rasa tidak substansial,” ungkap Siti.

Menurut Siti, masyarakat didominasi oleh mereka yang buta akan pendidikan politik dan hanya melihat apa yang sedang tren di media sosial, seperti TikTok. Hal ini menunjukkan kurangnya pendidikan politik di masyarakat yang berdampak pada demokrasi.

Siti menekankan bahwa demokrasi ideal terjadi ketika rakyat peka terhadap tindakan elite politik dan mampu mengkritisi pemanfaatan hukum dalam proses demokrasi. Ia menambahkan bahwa BEM UMY selalu mengawal proses demokrasi, seperti saat pemungutan suara hingga mengawal yang terpilih. Mereka juga melakukan kajian dengan menggunakan media alternatif kontra-propaganda berdasarkan data dan analisis, serta mengawal setiap kebijakan pemerintah ke depannya.

Qodari: Mendorong Sistem Pemilu Satu Putaran dan Soroti Politik Identitas

Qodari membuka sesinya dengan memperkenalkan diri sebagai inisiator gerakan satu putaran. Menurutnya, gerakan itu didasari oleh beberapa alasan, yakni tingkat kepuasan terhadap Presiden Jokowi yang masih tinggi, penghematan anggaran negara hingga 17 triliun, serta situasi yang lebih damai dan menguntungkan bagi para pebisnis. Qodari juga menyoroti menguatnya politik identitas dan tingginya risiko pada Pemilu 2024. Hal itulah yang menjadi alasannya untuk mendorong sistem satu putaran.

“Gerakan sekali putaran dilakukan tentu saja untuk memenangkan 02. Namanya pemilu itu memang untuk menggerakkan orang-orang atau pemilih untuk memilih kita,” ucap Qodari.

Menanggapi isu kecurangan, Qodari berpendapat bahwa setiap pemilu selalu ada yang menang dan kalah, dan pihak yang kalah selalu memiliki penyangkalan. Ia juga mengatakan bahwa dirinya adalah korban hoax karena dituduh memanipulasi hasil pemilu sebelum hari pencoblosan.

Di lain bahasan, Qodari menegaskan bahwa bantuan sosial (bansos) bukanlah kecurangan karena dilakukan sebelum pemilu dan tidak disalahgunakan. Menurutnya, bansos sebagian besar digunakan untuk subsidi yang sudah berjalan bertahun-tahun. Qodari berpendapat bahwa pihak eksternal patut disalahkan jika ekspektasi masyarakat tidak sesuai dengan realita.

Vladima: Soroti Ketidakberpihakan Kampus dan Minimnya Edukasi Politik

Vladima melanjutkan diskusi dengan menyoroti perubahan Trisakti dan minimnya edukasi politik dalam Pemilu 2024. Menurutnya, Trisakti saat ini tidak lagi seperti dulu, di mana kampus dinilai tertutup dan tidak berpihak kepada rakyat. Vladima juga mengkritik Pemilu 2024 yang tidak mengedepankan visi dan misi, serta track record para calon. Hal ini mengakibatkan banyak pemilih yang memilih berdasarkan faktor politik identitas dan influencer.

Vladima menilai, siapapun presidennya, mereka tetaplah bagian dari oligarki elit partai. Dia menyesalkan kurangnya aktivitas mahasiswa sebelum pemilu, dan baru bergerak ketika penghitungan suara dimulai.

Sebagai presiden mahasiswa Trisakti, Vladima menegaskan patronasi mahasiswa dan mendorong agar sifat elitisme ditinggalkan. Dia juga menyatakan bahwa tidak perlu ada “aliansi” mahasiswa.

Verrel Bantah Teori Bandwagon Effect dan Kritik Penghargaan Bintang Empat Prabowo

Verrel menjadi pembicara selanjutnya setelah Qodari meninggalkan diskusi publik. Verrel tidak setuju dengan pendapat Qodari mengenai teori bandwagon effect yang memberikan efek negatif.

Verrel mengungkapkan kekecewaan banyak mahasiswa atas hasil Pemilu 2024. Menurutnya, pemerintah sudah tidak mendengarkan kritik dari masyarakat, terutama mahasiswa. Verrel juga mengkritik pemberian penghargaan bintang empat kepada Prabowo, yang dianggapnya sebagai publicity stunt untuk mencuci citra Prabowo dan menutupi kasus HAM yang belum terselesaikan. Verrel beranggapan bahwa Pemilu 2024 menunjukkan proses yang tidak adil, meskipun ini bukan akhir dari segalanya.

Reni: Situasi yang telah terjadi telah dirancang secara sistematis

Narasumber terakhir, Reni membuka dengan sebuah pertanyaan.

“Siapa yang bosan?” tanyanya.

Ia berpendapat bahwa pemilu tahun ini dirancang secara sistematis dengan cara mensterilkan mahasiswa agar tidak ada “taring” demokrasi.

Menurutnya, gerakan yang sudah ada dan menggeliat, seperti tidak diperhatikan oleh pemerintah karena yang bersuara adalah para guru besar dan dosen, berbeda jika mahasiswa yang berbicara .

Sama seperti Verrel, Reni juga mengkritik pernyataan Qodari, yaitu mengenai gerakan satu putaran. Menurutnya memang boleh, tetapi yang tidak boleh adalah rekayasa satu putaran. Menurut reni, semua aturan/hukum sudah terlanjur direkayasa, dan rekayasa yang penuh tipu muslihat itu telah direstui oleh Jokowi.

Reni juga mengatakan bila mahasiswa demo ada beberapa hal yang dipertimbangkan, yang pertama adalah lawan yang dihadapi cukup besar, yaitu oligarki politik. Kedua, mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka mempunyai musuh bersama. Ketiga, yaitu politisasi bansos yang sulit untuk disadarkan. Terakhir, para aparat penegak hukum yang sudah berpihak.

Sebagai penutup, Reni suwarso memberi saran untuk mengamati dan mendengarkan, kemudian mencari informasi dan melakukan sesuatu. Ia juga menyerukan untuk melakukan gerakan koreksi bangsa dengan menggugat Jokowi sebagai presiden hasil demokratis yang mewarisi sistem politik transaksional.

Lantas, Apa Langkah BEM UI Selanjutnya?

Berbagai kritik juga ditujukan terhadap ketidaktegasan BEM UI dalam menanggapi isu Pemilu 2024. Tema yang diambil oleh BEM UI dalam diskusi publik kali ini juga dinilai tidak tegas terkait dengan berbagai kejanggalan dan keanehan dalam Pemilu 2024, baik sebelum maupun setelah pemungutan suara.

Verrel memberikan beberapa pernyataan kepada Suara Mahasiswa.

Verrel menuturkan bahwa tujuan dari diskusi publik tersebut adalah untuk mengajak rekan-rekan mahasiswa melihat situasi dinamika politik saat ini, terutama terkait dengan Pemilu dan bagaimana mahasiswa dapat menyikapi hasilnya setelah penetapan resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 20 Maret mendatang.

Ketika ditanya mengenai sentimen negatif yang ditujukan kepada beberapa narasumber dalam diskusi, Verrel menjelaskan kepada bahwa pihaknya sengaja menghadirkan narasumber dengan perspektif yang berbeda-beda, tidak hanya dari satu sudut pandang. Verrel menegaskan bahwa kehadiran Qodari yang dinilai berpihak pada salah satu pasangan calon oleh beberapa pihak, dimaksudkan untuk mendapatkan pandangan yang beragam. BEM UI ingin memberikan ruang bagi Qodari untuk memaparkan pendapatnya agar dapat dikritisi bersama oleh narasumber lain, seperti Presiden Mahasiswa Trisakti dan Presiden Mahasiswa BEM KM UMY, serta dari sisi akademisi, yaitu dosen Ilmu Politik FISIP UI.

“Kami melihat seringkali diskusi-diskusi internal kampus kita menghadirkan sosok narasumber-narasumber yang berada pada sudut pandang yang sama, standing point yang sama. Menurut kami, hal itu ada baiknya untuk coba kita geser kepada arah menghasilkan sudut pandang yang lebih variatif (atau) berbagai macam perspektif. Akhirnya, kami usahakan untuk menghadirkan (para pembicara) sehingga dapat menghasilkan suatu diskusi yang menarik dan tentunya meningkatkan kesadaran politik oleh semua teman-teman yang hadir,” tutur Verrel.

Selain itu, Verrel juga menuturkan bahwa langkah BEM UI setelahnya adalah berencana untuk mengawal gerakan dengan terus berkomunikasi dengan para akademisi UI dan memperkuat komitmen terhadap gerakan moral.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.