GKR Hemas Beri Dukungan Penuh untuk BIOSRA, Bioskop Rakyat Jadi Harapan Sineas Lokal

oleh -29 Dilihat

BANTUL – Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mendukung pengembangan Bioskop Rakyat (BIOSRA) sebagai upaya memperluas akses hiburan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan industri perfilman di daerah.

Dukungan tersebut disampaikan GKR Hemas saat mengunjungi BIOSRA di Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ia mengapresiasi inisiatif Angkatan Pekerja Kreatif Film Indonesia (APEKFI) yang menghadirkan fasilitas bioskop dengan harga terjangkau bagi masyarakat.

Menurut GKR Hemas, BIOSRA memiliki nilai lebih dari sekadar tempat pemutaran film. Kehadirannya dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat daerah untuk menikmati hiburan berkualitas dengan akses yang lebih mudah, sekaligus menjadi ruang pengembangan kreativitas generasi muda.

“Saya sangat mengapresiasi dan mendukung program dari APEKFI untuk BIOSRA atau Bioskop Rakyat ini,” ungkap GKR Hemas.

Ia menilai keberadaan BIOSRA dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dengan menghadirkan pengalaman menonton film yang selama ini lebih mudah dijangkau oleh masyarakat perkotaan.

“Di samping memberikan manfaat buat masyarakat di daerah, yaitu hiburan yang berkelas seperti di perkotaan, juga akan mengangkat generasi muda,” katanya.

GKR Hemas berharap BIOSRA dapat berkontribusi dalam pengembangan kabupaten dan kota melalui penguatan sektor hiburan serta industri kreatif berbasis masyarakat. Fasilitas tersebut juga diharapkan membuka ruang bagi sineas lokal untuk menayangkan karya dan mengembangkan potensi perfilman daerah.

Meski demikian, ia mengingatkan pengelola agar tetap memperhatikan kualitas serta kesesuaian film yang ditayangkan. Seleksi konten dinilai penting agar BIOSRA tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga memberikan nilai edukasi dan manfaat bagi masyarakat.

“BIOSRA supaya lebih selektif dan bijak dalam memilih film-film yang akan ditayangkan,” pesannya.

Selain itu, GKR Hemas mendorong para sineas lokal untuk semakin produktif menghasilkan film yang mengangkat kekayaan tradisi, adat istiadat, dan kebudayaan Yogyakarta.

“Saya juga berpesan agar lebih banyak lagi dibuat film yang bernuansa kearifan lokal, seperti di Jogja tentang adat dan budaya Yogyakarta,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum APEKFI, Endiarto, menjelaskan bahwa BIOSRA hadir sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat daerah terhadap fasilitas hiburan berkualitas dengan biaya yang terjangkau.

Menurutnya, masyarakat di sejumlah wilayah masih menghadapi keterbatasan akses untuk menikmati pengalaman menonton film seperti yang tersedia di kawasan perkotaan. Karena itu, APEKFI mengembangkan konsep bioskop rakyat dengan tarif yang dapat dijangkau berbagai kalangan.

“Tarifnya sangat murah yaitu Rp10.000,” tegas Endiarto.

Ia menjelaskan, keterbatasan akses pemutaran film juga menjadi persoalan bagi para pekerja industri perfilman daerah. Padahal, banyak pelaku kreatif di daerah memiliki potensi besar untuk menghasilkan karya yang berkualitas, tetapi belum didukung wadah profesional untuk menayangkan hasil produksinya.

“Masyarakat pelaku industri perfilman di daerah memiliki potensi luar biasa dalam berkarya, tetapi masih belum ada akses atau wadah profesional untuk media tayangnya,” ujarnya.

Melalui BIOSRA, APEKFI ingin menghadirkan ruang pemutaran film yang lebih merata sekaligus memperkuat ekosistem perfilman nasional. Program tersebut diproyeksikan berkembang hingga menjangkau setiap kecamatan di seluruh Indonesia, dengan BIOSRA Kasihan, Bantul, sebagai embrio pengembangan jaringan bioskop rakyat.

Endiarto berharap pemerintah daerah dan masyarakat dapat bersinergi mendukung keberlanjutan program tersebut. Kolaborasi berbagai pihak dinilai penting agar BIOSRA dapat berkembang sebagai bagian dari penguatan ekonomi kerakyatan melalui industri kreatif.

Ia mengakui keterbatasan pendanaan masih menjadi tantangan dalam memperluas fasilitas bioskop rakyat. Namun, APEKFI menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan program tersebut.

“Program BIOSRA ini akan tetap jalan, ada dukungan ataupun tidak. Sekali layar terkembang pantang untuk surut,” tegasnya.

Endiarto menambahkan, tujuan utama BIOSRA bukan semata-mata menghadirkan tempat pemutaran film, melainkan memberikan kebahagiaan kepada masyarakat melalui hiburan yang dapat dinikmati dengan biaya terjangkau.

“Yang terpenting bagaimana BIOSRA hadir bisa menghibur dan membahagiakan rakyat melalui hiburan bioskop,” katanya.

Kunjungan tersebut turut dihadiri jajaran pengurus DPD DIY, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Bantul Fenty Yusdayati, Kepala Dinas Kebudayaan Bantul Yunadiana, serta perwakilan Dinas Kebudayaan DIY Ririn Herini E dari Seksi Seni Rupa, Film, dan Media Baru. Hadir pula Dhieta Yuniar, istri Danrem DIY.

Dukungan berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat pengembangan BIOSRA sebagai sarana pemerataan akses hiburan, ruang apresiasi karya sineas lokal, sekaligus penggerak industri kreatif yang mengangkat kekayaan budaya daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.